Home Tips & Motivasi Belajar Dari Kisah Si “Bull Dog” Ruben Gonzalez

Belajar Dari Kisah Si “Bull Dog” Ruben Gonzalez

by Hendry Rudiansyah

Usia bukanlah hambatan untuk belajar dan meraih kesuksesan. Seperti yang di alami oleh Ruben Gonzalez. Tekad yang kuat serta sikap pantang menyerah telah membawanya berkali-kali meraih medali emas di pesta olahraga dunia empat tahunan, yang dikenal dengan Olimpiade. Ya, Ruben Gonzalez meraih medali emas dalam cabang olahraga Luge, yang konon olahraga tersebut mengandung banyak sekali risiko. Seperti apa kisahnya ? Yuk, baca terus tulisan ini, hehe….

Ruben Gonzalez, pria berkebangsaan Argentina yang lahir pada 26 Juli 1962 ini namanya melesat ketika dia meraih medali emas pada Olimpiade 1988. Sejak sekolah dasar Ruben Gonzalez memang sudah bercita-cita ingin pergi ke Olimpiade. Namun, dia baru menggerakkan cita-citanya ketika menyaksikan Scott Hamilton di televisi yang pada saat itu sedang berjaya meraih medali emas di Olimpiade tahun 1984. Sambil tersenyum dia berkata, “Kalau orang sekecil dia saja bisa menjadi pemenang, maka aku pun bisa”.

Kemudian dia pun mulai berlatih dan mempelajari berbagai macam olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade. Dia memang bukan seorang atlet, tapi dia memiliki kelebihan. Yakni tahan menghadapi segala tekanan, konsisten dan pantang menyerah. “Bull Dog”, itulah julukannya, yang artinya tidak mudah menyerah. Maka dari itulah dia selalu mempelajari olahraga yang sulit, yang mudah membuat orang menyerah. Kemudian dia menemukan sebuah olahraga yang bernama Luge. Yaitu sejenis olahraga salju yang sangat berbahaya. Akhirnya dia memutuskan untuk memilih olahraga ini. Mengapa dia memilih olahraga ini ? Karena olahraga ini sulit. Sembilan dari sepuluh orang yang berlatih pasti akan berhenti di tengah jalan.

Sesuai informasi dalam buku yang dia baca, tempat berlatihnya berada di Lake Placid, New York. Kemudian dia pun segera menuju kesana. Saat di telepon, dia menyebutkan dirinya seorang atlet dari Houston, Texas dan bertanya apakah dia bisa belajar. Kemudian yang menerima telepon menjawab “OK, berapa usiamu ?” Lalu dia menjawab, “saya 21 tahun”. Dan orang itu pun langsung menolaknya. Akan tetapi Ruben terus berusaha, dan dia menyebutkan bahwa dirinya dari Argentina. Orang itu pun terkejut dan mau menerimanya. Karena Luge dapat dimainkan lagi di Olimpiade jika jumlah negara peserta mencukupi untuk berkompetisi.

Ruben pun kemudian berangkat. Namun sebelum berangkat dia menerima sebuah pesan. Ada 2 hal yang harus dia ketahui.
Pertama, Kalau dia mau belajar dan mau mengikuti Olimpiade 4 tahun ke depan, maka hidupnya akan dipenuhi berbagai kesulitan.
Kedua, bersiap-siap menghadapi dokter bedah. Karena tulangnya akan patah beberapa kali. Sembilan dari sepuluh atlet yang mengundurkan diri mengalami beberapa kali patah tulang. Ruben pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

Hari pertama di Lake Placid, Ruben sudah digabungkan dengan empat belas atlet lainnya yang sudah belajar dari kecil. Di hari pertama dia hampir putus asa, berkali-kali menangis, tulangnya remuk. Semua orang memandangnya dengan sinis dan menertawakannya. Seolah-olah ingin berkata “Kamu terlalu tua untuk belajar”. Sebulan setelah itu dia juga nyaris berhenti. Tetapi temannya, seorang atlet dari kota lain berusaha memberikan motivasi kepadanya. Dia menyuruhnya untuk berdiri di depan cermin dan melihat dirinya sendiri disana. Ruben pun terus berlatih, dan berkata “Tak peduli betapa sulitnya, tak peduli apapun hasilnya, saya harus terus melakukannya”.

Ruben pun berhasil melewati latihannya, sementara empat belas atlet lainnya berguguran satu per satu. Ketika orang-orang mengetahui putra Argentina ini berlaga, banyak yang mengejeknya. Semua orang tidak yakin dia bisa menguasai olahraga seberat ini.

Berkat kerja keras, ketekunan, serta kegigihannya, Ruben pun berhasil meraih medali emas Olimpiade tahun 1988 di Calgary. Bahkan dia masih bisa meraih medali emas di Olimpiade-Olimpiade berikutnya, yakni tahun 1992, Olimpiade tahun 2002, 2006, dan 2010.


Usia kita memang akan terus bertambah. Namun bukan sebuah hambatan untuk kita terus belajar. Tiada kata terlambat untuk belajar. Kapan pun dan dimana pun. Serta ketekunan, kegigihan dan pantang menyerah adalah kunci untuk meraih kesuksesan. Karena sukses akan datang kepada orang-orang yang pantang menyerah.

You may also like

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.